Jenderal Purn L.B. Moerdani


Jenderal Purnawirawan Leonardus Benjamin Moerdani (alm.) lahir di Cepu Jawa Tengah 2 Oktober 1932, adalah salah satu tokoh militer Indonesia yang terkenal pada masanya. Merupakan perwira TNI yang banyak berkecimpung di dunia inteljen, sehingga terkesan misterius apalagi ditunjang dengan pembawaannya yang hemat bicara serta jarang tersenyum, kesan misterius makin kuat.

Lbmoerdani

Saya adalah penggemar berat beliau, bukan karena beliau adalah jenderal yang beragama Katholik tetapi karena beliau adalah patriot sejati, intelijen brilian, dan yang telah melakukan reorganisasi manajemen TNI/ABRI dengan saat efisien. LBM telah meletakkan dasar-dasar manajemen militer yang sungguh brilian ke dalam tubuh TNI semasa menjabat sebagai Panglima ABRI (1983-1988). Rasa kagum dan respek terhadap beliau telah menggugah sekaligus merangsang saya untuk menuangkannya dalam tulisan pendek ini.

Memulai karir militer sejak umur 14 tahun sebagai tentara pelajar di kota Surakarta, LBM mengabdikan seluruh hidupnya untuk NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Baginya NKRI adalah Harga Mati, yang tidak boleh ditawar-tawar. Nasionalisme yang melekat di dalam diri beliau sungguh merupakan sebuah “teladan” yang seharusnya dicontoh dan diterapkan oleh para tokoh militer maupun tokoh politik masa kini, yang semakin hari semakin tidak jelas arah dan tujuan perjuangannya.

2997579431_1637201498

LBM juga termasuk salah-satu sesepuh di dalam kesatuan Kopassus. Beliau ikut terlibat di dalam perkembangan pasukan elite khusus ini sejak awal sekali. Beliau bahkan ikut secara langsung penyerbuan pesawat Woyla yang dibajak teroris di Don Muang bersama pasukan anti teror Kopassus, padahal pangkatnya saat itu adalah Letnan Jenderal.
Ketika Kolonel Alex Kawilarang sebagai Panglima TT III Siliwangi di Bandung dibentuklah Kesatuan Komando Teritorium III yang merupakan cikal bakal kesatuan Kopassus saat ini. Pelatih pertama dasar komando saat itu adalah Rokus Bernardus Visser yang setelah tinggal di Cisarua mengganti namanya menjadi Mochamad Idjon Djanbi. Kesatuan ini kemudian diberi nama Kesatuan Komando Angkatan Darat (KKAD) setelah menginduk ke MBAD, bukan Siliwangi lagi. LBM nerupakan angkatan pertama yang masuk ke pasukan elite ini, beliau dilatih oleh Mayor Idjon untuk menjadi Kader Pelatih Inti.

A-12b

Setelah jumlah anggota telah mencukupi KKAD ditingkatkan menjadi Resimen Pasukan Komando Angkatan Darat (RPKAD) pada bulan April 1956, dengan tiga kompi. LBM menjabat Komandan Kompi A pada bulan Juni 1956 dengan pangkat Letnan Dua menggantikan Letnan Satu Fadillah. Setelah itu operasi militer yang dijalankannya sebagian besar adalah operasi militer di Sumatera, yang pada awal kemerdekaan sangat rapuh. Untuk kemudian berlanjut operasi militernya ke Irian dalam tugas pembebasan Irian Barat, operasi militer di Kalimantan Utara dalam operasi Ganyang Malaysia.

Karir militer beliau yang tertinggi adalah sebagai Panglima ABRI, merangkap sebagai Pangkopkamtib. Pada masa itu pulalah Kopasandha berubah namanya menjadi Kopassus. Demikian pula dengan Komando Teritorial adalah gagasan dari almarhum.

Semasa menjadi Panglima ABRI, beliau juga telah berjasa mendirikan Sekolah Taruna Nusantara di Magelang. Satu hal yang mungkin banyak dilupakan orang adalah beliau secara tegas menolak tentara terlibat di dalam dunia politik.
Ketika krisis moneter melanda Indonesia tahun 1998 yang diikuti  lengser-nya Presiden Soeharto, dan semakin maraknya eforia reformasi, ekonomi dan politik di Indonesia juga semakin tidak menentu. LBM merasa sangat prihatin ketika menyaksikan tanah airnya kacau-balau dan semerawut. Namun LBM merasa bahwa ini adalah salib pribadinya yang harus ia pikul.

Prestasi
Prestasinya terukir sebagai penata organisasi intelijen di tubuh militer. Benny, demikian panggilan akrabnya, merupakan penggagas Badan Intelijen Strategis (Bais) pada 1983. Sebuah lembaga intelijen melengkapi lembaga serupa yang sudah ada yakni Badan Koordinasi Intelijen Negara (1969). Dia juga sukses mereorganisasi sejumlah komando daerah militer dan memodernisir peralatan TNI semasa menjabat Pangab.

Mantan Panglima Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban ini juga sukses dalam sejumlah operasi militer. Di antaranya Operasi Seroja di Timor Timur pada 1975 dan Operasi Woyla 1981.

Dia juga dikenal sebagai negarawan yang dijuluki kalangan diplomat asing sebagai the only statesman in Indonesia.

Legendaris

Benny dikenang sebagai peletak modernitas ABRI. Banyak hal yang telah diperbuat LB Moerdani semasa hidupnya. Bukan hanya menjadikan lembaga intelijen berkembang secara profesional, tapi juga juga membangun persenjataan yang lebih modern, pendidikan, latihan dan kerja sama dengan negara lain di bidang pertahanan.

Dia figur berkepribadian kuat, memiliki profesionalitas militer yang sangat kental, sedikit bicara, tegas, dan tidak bertele-tele jika berbicara. Bahkan Direktur Jenderal Strategi Pertahanan Departemen Pertahanan era Orba Mayjen TNI Sudrajat menilai LB Moerdani sebagai jenderal legendaris yang setara dengan Sudirman, Nasution, dan Simatupang.

Menurut Sudrajat, selain punya karisma luar biasa, Beliau bisa membawa bangsa ini kepada suasana stabil, saling memahami, dan di tengah-tengah itu memformulasikan nilai-nilai demokrasi.

Anggota Dewan Kehormatan Harry Tjan Silalahi menilai LB Moerdani sebagai pahlawan, patriot sejati Indonesia. Sebab, ia selalu berjuang dan melaksanakan tugasnya untuk negeri ini melampaui apa yang diwajibkan. “Kita menamakannya Patriot 24 Karat,” tuturnya kepada Kompas (30/8/2004)

Sofjan Wanandi berpendapat, LB Moerdani termasuk sosok militer yang berani mengkritik Soeharto, tetapi tetap menunjukkan loyalitasnya. “Dia juga menjadi korban ketika mulai tidak disukai Soeharto,” ucapnya.

Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menilai mendiang sebagai seorang prajurit yang berdedikasi tinggi dan tidak pernah memikirkan hal lain, selain negara dan kesatuannya.

“Beliau seorang ksatria,” kata Gus Dur sebagaimana ditulis dalam pengantar biografi LB Moerdani.

Namun, Gus Dur juga menulis, ternyata seorang LB Moerdani yang sedemikian perkasa masih mau diperintah untuk menjalankan kebijakan “petrus” (penembakan misterius). Kebijakan tersebut dijadikan semacam terapi kejut oleh pemerintahan Soeharto untuk mengurangi angka kejahatan.

“Muka Beliau setelah membaca tulisan saya seperti berubah jadi ’merah-biru’. Tapi kemudian Beliau mengatakan, ‘Baik, dimuat’. Saya kemudian mendatanginya dan mengatakan, ’Saya paling senang berurusan dengan seorang ksatria’,” ujar Gus Dur tentang itu.

Sosok Benny juga terbilang kontroversial. Selain banyak yang mengenangnya sebagai prajurit sejati, gagah dan prajurit negarawan, juga ada pihak yang mengenangnya dalam sosok lain.

Dia memang seorang jenderal yang meninggalkan banyak jejak semasa Orde Baru masih gagah perkasa. Pada masanya menjabat Panglima ABRI, dialah jenderal yang banyak disebut paling berpengaruh setelah Pak Harto. Wajah sangarnya sering hadir di banyak peristiwa yang menonjol. Bahkan setelah Orde Baru tumbang, bayang-bayangnya masih banyak dalam pembicaraan politik.

Kebersamaannya dengan Pak Harto dimulai pada saat perebutan Irian Barat. Pada perang  yang dikomandani Mayor Jenderal Soeharto itu, Mayor Benny yang memimpin Operasi Naga iberhasil memimpin penyusupan.

Setelah itu, 1967-1974 Benny bertugas di luar negeri (Kuala Lumpur dan Seoul) sebagai diplomat. Di era akhir 1960-an hingga awal 1970-an itu, nama yang membayangi Pak Harto adalah mendiang Jenderal Ali Moertopo, yang juga salah satu mentor Benny di bidang intelijen.

Kemudian Benny diangkat sebagai pimpinan Satgas Intelijen Kopkamtib (1974). Kemudian menjabat asisten intelijen Hankam, dan kepala pusat Badan Intelijen Strategis (Bais) yang didirikannya. Hingga meraih posisi puncak menjabat Panglima ABRI sekaligus Panglima Kopkamtib sampai 1988.

Pada saat Benny menjabat Pangab itulah, terjadi Peristiwa Priok 1984. Benny kerap dianggap sebagai orang yang sengaja memojokkan golongan tertentu. Namun, Benny membantahnya di hadapan para kiai Ponpes Lirboyo, Kediri, “Saya ingin menegaskan, umat Islam Indonesia tidak dipojokkan. Dan tidak akan pernah dipojokkan.”

Kesetiaannya sebagai pembantu Presiden untuk menjaga “stabilitas nasional” memang tidak hanya menggetarkan kalangan aktivis muslim. Banyak separatis dan gerilyawan, seperti orang Timtim umumnya yang agamanya Katolik, juga mendapat tindakan tegas pada masa itu.

Namun kesetiaannya kepada Pak Harto tidak harus membungkuk-bungkuk seperti kebanyakan tokoh lain. Benny, konon, malah punya keberanian mengingatkan Pak Harto agar putra-putri dikendalikan. Walaupun hal itu harus berakibat hubungannya dengan sang jenderal besar tersebut merengggang.

Apalagi, seperti ditulis Kivlan Zen, Benny dianggap berambisi menduduki  kursi wakil presiden pada Sidang Umum MPR 1988. Berakibat Pak Harto marah dan memberhentikan Benny dari Jabatan Panglima ABRI beberapa hari sebelum SU MPR dimulai. Sehingga Benny pun kehilangan kendali terhadap Fraksi ABRI di DPR/MPR. Hal ini disikapi Brigjen Ibrahim Saleh, dengan  interupsi  menolak Sudharmono sebagai Wapres. Brigjen Ibrahim Saleh pun dipecat. Pada masa itu, interupsi dianggap suatu keberanian luar biasa  yang dianggap penguasa ibarat ledakan bom dalam suasana ‘stablilitas nasional’ yang tenang.

Tanggal 29 Agustus 2004 beliau menghembuskan nafasnya di RSAD Gatot Subroto, setelah menderita sakit. Telah pergi seorang Patriot Sejati, yang selama karir militernya tidak pernah lepas mengantongi Alkitab dan Rosario kemana pun tugas dibebankan dipundaknya.

sm1benny30

Telah pergi seorang prajurit sejati yang sangat loyal kepada tugas dan atasannya. Berkomitmen tinggi selalu menjaga keutuhan, kedaulatan bangsa dan negaranya. Jenderal yang berpenampilan dingin, pendiam, tertutup nyaris tanpa ekspresi. Namun sesungguhnya di dalam lubuk hatinya yang paling dalam almarhum orang yang hangat, peduli, tinggi kesetiakawanannya terutama terhadap yang lemah. Seorang ayah yang sangat disayangi dan dihormati puteri tunggalnya.
“Aku telah mengakhiri pertandingan dengan baik. Aku telah mencapai garis finish dan aku telah memelihara iman” (2 Tim 4:7-8).

Selamat jalan pak Benny. Domini vobis cum

patung_LB_Mourdani Tugu-Lb_-Moerdani

Patung L.B..Moerdani di Merauke

Benny dan Woyla

27 Maret 1981, dua orang anggota Kopasandha (Kopassus) dikirim ke Jerman untuk mengikuti latihan bersama pasukan anti teror legendaris Jerman GSG-9. Hanya satu yang ketinggalan yaitu Subagyo.

Namun kekecewaan Subagyo (mayor) sedikit terobati setelah sehari kemudian terjadi pembajakan pesawat Garuda DC9 “Woyla” yang dikemudikan oleh Captain Herman Rante. Pesawat akan dibajak ke Don Muang dan rencananya pembajak minta diberangkatkan ke Lybia.

Sudah dua tahun pasukan ini berlatih namun belum pernah terjun di medan yang sesungguhnya. Maka selama dua hari mereka berlatih di hanggar Garuda untuk pemantapan latihan. Sekarang saatnya membuktikan diri dan lebih prestius, bertempur dimedan tempur luar negeri.  Sintong Panjaitan sekalipun terpincang-pincang kakinya menggunakan tongkat penyangga sangat antusias mengikuti jalannya latihan.  Lama-lama Sintong jengkel, tongkat dilepaskannya “Komando kok pincang…

Latihan berjalan lancar. Masuk dari sisi pesawat begitu mudahnya. Lantas para pilot Garuda yang diajak Sintong menyaksikan jalannya latihan memberikan komentar, ”kalau pintu darurat dijebol dari luar, yang keluar bakalan tangga darurat. Ini akan mendorong pasukan keluar pesawat!

Oh iya,” kata Sintong. Berdasarkan masukan ini saat penyerbuan seorang komando bertugas khusus menahan laju tangga darurat.

Saat keberangkatan ke Bangkok tergantung kepada manusia yang paling berhak adalah Benny Murdani. namun ketika Benny memasuki pesawat ia malahan bertanya:”bagaimana kesiapannya,” lalu membagikan amunisi peluru.  Peluru anti teroris yang baru ini dirancang mampu menembus manusia namun tidak menembus badan pesawat.

Sintong memiliki pengalaman buruk dalam operasi Dwikora.  Peralatan baru ternyata menyulitkan pengoperasiannya ketimbang peralatan tempur lama namun sudah familiar. Instingnya berkata lain. Dasar orang Batak, tidak perduli yang didepannya adalah atasan berpangkat Letnan Jendral ia (let kol) langsung menolak “jangan pak, kami tidak terbiasa dengan peluru baru.”

Lho ini peluru baru,” jawab Benny rada kesal.

Kami harus mencobanya pak,” kata Sintong lagi. Bagi Sintong rumusnya hanya satu, peralatan baru harus dicoba sendiri sampai yakin berfungsi dengan baik.

Akhirnya Benny yang masih gusar berkata “.. ya sudah cobalah…

Harap maklum suasana tegang saat itu mulai dari mengurus ijin mendarat dengan paralatan tempur di negeri Gajah Putih, negara lain yang ingin ikut campur merangsek masuk Woyla, belum lagi nada-nada miring seakan Woyla adalah rekayasa Murdani dan kawan kawan. Dalam kariernya dia belum pernah dibantah oleh anak buahnya sendiri.

Pasukan lantas mencari tempat dengan membuat tanggul disekitar landasan. Begitu peluru ditembakkan, yang terdengar suara “klik, klik,” tak satupun peluru meledak. Kali ini giliran Sintong yang melapor dengan gugup kepada Benny.

Wajah keras Benny tampak semakin keras dan tegang. Ia lalu menyuruh mengambil peluru lain di Tebet. Rupanya peluru khusus ini hanya bertahan enam bulan masa kadaluarsanya. Namun pihak perlengkapan tidak menyadarinya. Setelah peluru baru datang, dan berhasil ditembakkan, wajah Benny kelihatan lega.

Sintong melirik jam ditangannya DC10 Sumatera dengan 35 Kopasandha sudah telat satu jam dari yang direncanakan. Sementara itu pesanan 17peti mati sedang dipersiapkan. Ini tugas tiket satu jalan.

(dari berbagai sumber)

About these ads

About this entry