Eksperimen dengan Tikus


Selama puluhan tahun, banyak perilaku tikus yang menjadi ide dalam percobaan dan eksperimen, dipakai untuk menjelaskan perilaku manusia. Bahkan, beberapa ahli psikologi, khususnya psikologi eksperimen, menggunakan tikus untuk mendapatkan pemahaman mengenai perilaku.

Berikut ini adalah beberapa eksperimen dengan tikus, di mana kita pun bisa belajar banyak mengenai motivasi dalam diri kita!

Penelitian pertama menyoal pentingnya deadline. Pada suatu ketika, eksperimen dilakukan di mana para tikus diajari untuk memencet potongan besi selama beberapa kali. Bila berhasil, tikus itu diberi hadiah makanan. Ada eksperimen di mana tikus belajar untuk mendapat makanan dengan memencet 5 kali, 10 kali hingga 20 kali. Mula-mula, para tikus dikondisikan dulu.

Lantas, penelitian pun dilakukan untuk melihat berapa lama tindakan para tikus itu. Ternyata, yang menarik justru ditemukan bahwa para tikus ini akan memencet lebih cepat lagi pada saat-saat menjelang akhir hitungan. Semakin tikus manyadari jumlah pencetannya semakin dekat dengan makanan, semakin cepatlah tikus ini memencet.

Lantas, apa pelajaran motivasi yang dipelajari dari perilaku tikus ini? Kenyataan itu menjadi pelajaran penting soal pentingnya deadline dalam tujuan kita. Ternyata, bukan hanya tikus, manusia pun pada saat menjelang akhir dan semakin dekat dengan tujuan yang bisa dilihatnya, dia justru semakin bersemangat dan bertenaga. Hal itu menjelaskan mengapa kita perlu tenggat waktu dalam rencana dan tujuan kita. Supaya semakin dekat tujuan, semakin bersemangatlah kita.

Penelitian kedua menyoal kekuatan motivasi. Kali ini eksperimennya dilakukan dengan tikus betina yang mempunyai pasangan dan anak. Tikus itu dilatih menyeberangi suatu jembatan beraliran listrik untuk mendapatkan makanannya. Awalnya, tikus betina melakukannya dengan baik. Tetapi makin lama, kekuatan setruman jembatan yang harus dilewatinya ditambah, hingga akhirnya si tikus menyerah.

Lantas, eksperimen kedua pun dilakukan. Kali ini, di ujung jembatan terdapat pasangannya, yakni tikus jantan yang tidak bisa mengambil makanan kecuali dibantu oleh tikus betina. Untuk menolong tikus jantan pasangannya, si tikus betina harus melewati jembatan beraliran listrik yang sudah tidak ingin dilewatinya di saat eksperimen pertama.

Namun, ketika terdapat tikus jantan di seberang jembatan, tikus betina itu rela ‘disetrum’ untuk membantu pasangannya dan dirinya mendapatkan makanan. Namun, ketika setruman pun ditingkatkan terus hingga akhirnya, meskipun ada pasangannya, si betina ini menyerah untuk lewat.

Lantas, eksperimen ketiga pun dilakukan. Kali ini, yang ditaruh di seberang adalah anak-anaknya perlu diberi makan. Lagi-lagi, untuk itu dia harus melewati jembatan beraliran listrik, yang tidak mau dilaluinya di percobaan kedua.

Nyatanya, apa yang terjadi? Saat melihat anak-anaknya, si tikus betina kembali rela disetrum lagi, dengan tingkat setruman listrik yang lebih besar, demi menyelamatkan anak-anaknya.

Tujuan hidup

Tentu saja, penelitian ini sangat menarik. Hal itu sebenarnya bisa dikaitkan pula dengan motivasi soal tujuan hidup kita. Para tikus mengajarkan, kalau motivasinya hanya untuk sendiri level setruman listrik yang ingin ditanggung jauh lebih rendah dibandingkan kalau motivasinya demi pasangan maupun demi anak-anaknya.

Hal tersebut tentu saja bisa kita kaitkan dengan tujuan hidup kita, misalkan ‘kebebasan finansial’. Kalau tujuannya hanya untuk pribadi semata, tidak akan sebesar kalau tujuan itu melibatkan keluarga apalagi ada tujuan untuk masyarakatnya. Tak mengherankan bukan, orang rela mati dan berperang demi negara atau agama.

Penelitian ketiga yang menarik adalah riset yang dilakukan oleh bagian Human Relations di Yale University pada 1948.

Saat itu, ada dua ekor tikus, satu lapar dan satunya lagi kenyang. Lalu, kedua tikus dimasukkan ke kotak di mana tikus itu akan mendapatkan makanan jika menyentuh panel tertentu. Ternyata, tikus yang lapar lebih aktif sehingga dengan cepat belajar mendapat makanan dengan cara menyentuh panel. Tikus kenyang, hanya pasif, bahkan hanya tidur-tiduran.

Berikutnya, setelah kedua tikus ini kenyang, kedua tikus mulai diberikan setruman listrik. Kedua tikus memberontak dan mencari cara supaya bisa keluar. Sebenarnya, ada tombol lain yang bisa disentuh oleh tikus-tikus itu untuk menghentikan setruman listrik. Dalam eksperimen ini, tikus yang sebelumnya lapar dan telah belajar menyentuh panel ternyata lebih dahulu menemukan tombol yang menghentikan setruman listrik.

Penelitian terakhir ini dengan jelas menunjukkan bahwa adanya kondisi yang tidak nyaman seringkali merupakan motivasi yang baik untuk lebih kreatif dan mencari solusi.

Sebaliknya, rasa aman dan sudah nyaman, seringkali membuat kita gampang puas dan tidak berusaha. Dan lebih menarik lagi, kita belajar bahwa dengan belajar mengatasi berbagai kesulitan, kita akan mempunyai sumber daya besar bagi kita untuk menghadapi tantangan maupun kesulitan berikutnya.

Sumber: Bisnis Indonesia


About this entry